Minggu, 07 April 2019

Fladira dan om (Part 7 dan 8)


PART 7   Tidak Hormat (PoV Dira)
POV Dira

                Hari ini aku membuat suatu kesalahan yang mungkin harusnya tidak aku lakukan. Aku melakukan sesuatu yang jahat kepada Om Ku Sendiri. yah aku sih tidak sadar akan tetapi kata bunda kata-kata itu menyakiti hati om ku.

                Apa yang aku lakukan adalah ketika tadi pagi ketika om telah memanaskan motor Paijo. Omku memanaskan seperti biasa lalu aku pun naik seperti biasa Cuma karena hari itu aku terburu-buru aku lupa membawa uang jajan. Akhirnya seharian aku lapar.

                “om minta Jajan dong”

                “kamu kan taha. Om ga punya uang”

                “Kemaren aja beli bunga Bisa”

                “yah itu kan Om Nabung dari uang nganterin kamu”

“Makannya kerja Dong Om.”

                Lalu om adit menjadi lebih pendiam selama perjalanan tidak ada lawakan-lawakan renyah dari om adit yang sama renyahnya dengan ayam Krispi KFC. Dia menjadi lebih hening. Aku seperti melakukan suatu dosa yang aku tidak tahu.

                Hal ini aku ceritakan ke bunda. Lalu bunda berkata

                “Kamu minta maaf sana”

                “Kenapa bunda?”

                “bagi om adit sekarang masalah kerjaan adalah hal yang sensitif buat dia”

                “maksudnya bunda”

                “gimana ya bunda jelasin”

                “om adit mungkin sedang luka,  ibarat kata begini kerja bagi om adit adalah luka di badan”

                “yang dira bilangin itu kayak nyentuh-nyentuh luka om adit, sakit ga dipegang lukanya’

                “sakit bunda”

                “iya sakit”

                “nah itu juga yang dialamin om adit”

                Walaupun dengan analogi yang aneh dari bunda aku sedikit mengerti bahwa mungkin aku sedikit menyakiti hati om adit dengan membahas tentang masalah pekerjaan. Malamnya aku ingin segera minta maaf.

                Akan tetapi ternyata malamnya om adit tidak ada dirumah. Kata bunda dia keluar.akan 
tetapi sampe akhirnya jam 9 malam om adit pulang dengan membawa kertas dan banyak map coklat.

                “om adit mau buat apa”

                “oh ini om mau buat lamaran’

                “hmmm om aku mau minta maaf ya”

                “minta maaf kenapa”

                “yah gapapa. Om juga jadi sadar kalo om juga harus segera kerja lagi”

                “Om dulu kan udah kerja? Kenapa keluar”

                “hmmmm,, ceritanya panjang” sambil om adit tertawa

                “yaudah kamu tidur sana”

-------------------

Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu

“dira bangun mandi sana”

                aku melihat om adit tiba-tiba sudah berpakaian rapi, memakai sepatu vantopel celana warna hitam dan kemeja Biru dengna lengan pendek dan jam tangan sesuatu yang jarang sekali aku lihat. “om adit mau kemana?”

                “Om Mau Interview Kerja”
          
      Entah kenapa rasanya melihat om adit yang mau kerja taraf ganteng om adit jadi meningkat 50% yah walaupun kita tahu bahwa angka 0 kalo ditambah 50% tetap saja angkanya 0. Hehehehehe bercanda loh aku om

               


Part 8 Melamar Kerja (Pov Adit)

POV Adit

Beberapa hari lalu gue membuat lamaran untuk semuanya gue melamar untuk apa saja. yang berlulusan S1. Setelah membuat beberapa hari tidak ada panggilan dari manapun itu yang membuat gue merasa cukup sedih.

Hingga waktu itu hari jumat Sore gue dapat telpon untuk melakukan interview kilat dari bank CIMB niaga.untuk di Interview pada hari senin mereka membutuhkan  Pekerja yang sudah bisa bekerja untuk hari Rabu.hari Sabtu dan minggu pun gue membaca-baca apa saja yang perlu dipersiapkan dalam melamar kerja.Ternyata kalo dari bank agak ketat dia ada seleksi Psikologi, Tes FGD, dan terakhir Interview dengan atasan Langsung.

Gue bener-bener belajar dan mempersiapkan dari membeli Buku Tes psikologi pada hari Sabtunya dan belajar total pada hari minggunya. Tujuan untuk tidak mereporkan mbak dita lagi mungkin bisa tercapai. Yah walau bisa dibilang gue belum menyiapkan untuk FGD tapi seengaknya gue udah siap pada tes Psikologi.

Hari minggu gue benar-benar belajar apa yang harus dilakukan. Dan waktu itu hari senin gw dandan serapih mungkin dan pada akhirnya gw berangkat menuju tempat lamaran tentu saja dengan harapan yang sama dengan sebelum-sebelumnya tentu mendapatkan pekerjaan.

Hari senin pun akhirnya sampai juga. Gue bangun pagi sekali jam 5 pagi sekali lebih pagi dari biasanya yang jam 9 baru bangun. Yah kalo dibandingkan berarti ini super duper pagi bagi gue. Gue berusaha serapih mungkin untuk memberikan First impresion yang baik kepada pihak yang akan mewancara gue. Sapa tahu walau gue gagal menjadi karyawan disana gue akan dipekerjakan sebagai ahli desain pakaian kanto CIMB. Dan setelah itu kantor-kantor lain pun akan ikut mempekerjakan gue. Masuk majalah fashion, menjadi orang kaya. Ketika kaya gue terkena scandal sex tape layaknya artis-artis sekarang. 

Oke gue rasa gue terlalu menghayal berlebihan.

Tapi siapa tahu aja ya kan?

 tempat gw akan melakukan tes Interviewdari bank CIMB adalah pondok indah hari itu adalah hari senin yang hujan gw masih ingat itu adalah bulan desember. Yah entah kenapa gw selalu tidak suka dengan bulan desember. Yah selalu ada sial di bulan itu. dan gw ga suka akan tetapi gw tetap berharap bahwa gw akan berhasil pada kali ini.

Yah setelah sial berkali-kali gw sangat berharap kali ini. Gw tidak hanya mendapatkan ucapan-ucapan

“maaf mas coba ditempat lain”

“maaf mas kayaknya kantor kita belum bisa menampung anda”(disangka gw pengemis kali)

“maaf mas itu makanan saya”

gue udah sering sekali mengalami penolakan terhadap pekerjaan rasanya kalo gw nembak cewek ditolak lagi oleh wanita rasanya gw akan berkata udah gitu doang. Gatel men.bahkan saking sering ditolak lamaran pekerjaan mungkin gue sudah layak dan kredibel jika membuat buku berjudul

“Tips-Tips menghadapi kenyataan  tidak lolos Interview”

“Dijamin gagal kerja”

“Jalan Damai dari Penolakan”

Fokus Boy

akhirnya gw dateng dan mulai bersiap-siap dengan pakaian rapi gw mau memulai Interview kali ini. Setelah sampai di tempat duduk ternyata yang datang banyak sekaliada sekitar 150an orang lebih kenapa gue yakin. Karena gue dapet nomor ujian 152. Yang dateng ternyata banyak banget banyak yang cantik-cantik juga. Rasanya gw yang Cuma bermodal kerja keras aja. Aga susah untuk mendapatkan lowongan ini Setelah itu tiba-tiba masuk seorang pengawas yang mengatakan “Pengunguman kepada semua undangan interview bahwa nanti dari semua yang telah daftar hanya 50 orang yang akan ke tahap selanjutnya”

berarti hanya 1/3  . 100 orang lebih gugur Serem. Tapi gue udah siap untuk hal ini.

“terus nanti pada tahap ke 2 akan diambil 40 orang tahap 3 sisa 20 orang dan tahap terakhir interview akan diambil 10 orang terbaik. nanti yang terpilih nanti hanya 5 orang saja. untuk bekerja di bank CMB Niaga”

Dari 150 hanya diambil lima orang berarti ada 145 orang yang mungkin akan kecewa pada pelamatan kerja kali ini. Gue siap akan tetapi mungkin saingan gue adalah beberapa orang yang mungkin Mereka adalah kumpulan orang-orang yang udah mengikuti beberapa kali interview seperti ini mungkin mereka juga sudah jenuh sama dengan gw mungkin mereka juga penasaran kenapa mereka tidak pernah berhasil-berhasil ada gosip katanya kalo di bank itu yang keterima Cuma china doang kalo lokal Cuma dijadiin babu.

Tapi by the wat tadi disebut ada 4 Tahap. Kok 4 tahap.belum selesai gue memikirkan tiba-tiba lembar soal telah diberikan.

Lembar soal bahasa inggris

“yah kalian punya waktu 120 menit silahakan dikerjakan”

Yah tes bahasa inggris sesuatu yang tidak gue harapkan sama sekali

gw mulai mengerjakan soal-soal ini dengan begitu kerasnya soal-soalnya syukurnya tidak terlalu sulit hanya masalah gramar dasar hinggga akhirnya gw terlalu berharap bahwa gw yang akan dipilih untuk pekerjaan ini.yah gue telah berusaha cukup keras gue rasa.

akhirnya setelah selesai.

Mbak-mbak tadi berkata lagi

”nanti  jam 1 ada pengunguman di papan ya. Bagi yang namanya ada akan masuk ke tahap selanjutnya”

Gw waktu itu berkenalan dengan beberapa orang ada orang yang sudah keliatan sudah berpengalaman dalam pekerjaan. Dan beberapa anak baru lulus yang bertanya-tanya tentang bagaimana prospek kedepannya dia tidak tahu bahwa beberapa orang hanya berharap untuk bisa dapat bekerja saja disitu.

Akhirnya pengunguman tiba beberapa orang sudah melihat hasil pengunguman dan gw pun juga melihat disitu Cuma. setelah itu mereka gw berharap ada nama gw disebutkan pada salah satu dari 50 nama itu akan tetapi ternyata tidak

Dan akhirnya gw tertunduk lemas sekali. Gw berjalan menuju pintu keluar bareng dengan teman yang baru kenalan. Gw bertanya kepada dia

“mas ga lulus juga?”

“Iya saya ga lulus juga”

“mas lulusan tahun kapan”

“2014”

“berarti udah pernah kerja dong”

“belum pernah ngelamar-lamar doang”

Waktu itu gw terdiam rasanya memang dia lebih parah daripada gw . hal itu terkadang membuat gw lebih baik akan tetapi tetap saja ketika lu lagi dibawah lu akan tetap merasa diri lu yang terbawah.

                Rasanya yang tersisa hanya rasa kelelahan. Di rumah gue segera melihat dira dan dia bertanya “bagaimana Om?” akan tetapi rasanya gue sangat malas untuk menjawab rasa kecewa penolakan membuat gue malas untuk ngapa-ngapain. Rasanya terlalu lama jadi penganguran bisa begitu menyakitkan.

                “gapapa kok dira”

                Gue Menjawab begitu dan langsung segera menuju ke kamar. Di kamar gue menangis rasanya sangat sedih menjadi tidak bergunsore itu gue segera  tidur setelah pulang kerja.

                Tengah malam gue terbangun. Gue bermain Twiter ada sebuah hal yang menarik minat gue yaitu adalah bahwa ada perlombaan penulisan. “KIRIMKAN NASKAH KAMU UNTUK DIJADIKAN FILM” oleh Joko Nawar. Seorang produser sedang mencari naskah film.

                Hal ini kayaknya membuat gue tertarik. Yah mungkin ini memang jalan gue. Malam itu gue inget sekali bahwa gue menulis naskah sampe besok pagi. Menulis cerita tentang kisah gue sebagai penganguran yang ingin menjadi penulis,

---1 Bulan Kemudian---

Naskah ini akhirnya telah jadi. Gue sekarang berada di depan kotak Box. Dan gue memasukan amplop coklat kepada tukang Pos.




Minggu, 10 Maret 2019

Fladira dan Om (Part 5 dan 6)


   Om adit Naksir dengan Pengajar (PoV Dira) (Part 5)
POV Dira
Setelah Juara ada beberapa hal yang berubah waktu aku kembali ke sekolah.

Karin menyelamatiku karena pada hari minggu kemarin aku juara. “ Dira Selamat ya kamu juara 3 ya katanya”

“iya hehehehe. Kok tahu? ” tanyaku penasaran

“iya dari Ibnu”jawab karin

“ohh Ibnu tetep ada aku pikir kamu udah pulang?”tanya ku

“bagaimana dengan kamu nu? Pasti ga juara kan” kata rohim

“aku hampir juara him. kata panitianya aku juara 4 tapi sayangnya pas di lomba aku Cuma 1-3 aja”

“tuh kan aku bilang juga apa mending kamu ikut lomba mewarnai aja” sanggah karin tanpa memperhatikan statement tambahan dari ibnu

“bener juga kan kalo itu saingannya  paling anak tk atau anak kelas 1”

“ehh kita udah kelas 3 ya.” Jawab ibnu keberatan

“gapapa lah nu. Orang dewasa ga bisa bedain kok mana anak kelas 3 mana anak kelas 1” jawab rohim

“bener itu aku aja kalo dirumah sodara masih disangka anak kelas 1. Harusnya kamu lomba itu” sanggah karin

“Ga mau aku” jawab ibnu

“kayaknya adekku mau ikut lomba mewarnai deh nu? Mau ikut ? nanti aku bilang ibuku” Rohim

“Ga mau aku” jawab ibnu

“gapapa nu yang penting juara nu”kata karin memansasi

“betul itu nu”jawabku memanasi juga. Setelah lomba selain aku mendapatkan perhatian dari teman-teman ada yang berubah dari om aku. Iya om adit . 

“Dira Ayo Berangkat” Suara Om Adit Memangil aku  untuk berangkat Les Biola  dia memakai jaket ala-ala Dilan dengan motor Jupiter Z. Walaupun secara muka tentu jauh sekali om adit dengan iqbal
Foto adit dengan gaya iqbal. Sama Iqbal beneran

Akhir- Akhir ini Om Adit jadi semangat sekali kalo disuruh nganterin aku untuk bimbel ke tempat biola. Padahal kalo dulu-dulu untuk menyuruh om adit harus dengan mengunakan sogokan nasi goreng atau dikasih uang 20 ribu untuk uang bensin Sekarang-sekarang ini om adit juga memakai baju rapih sekarang. Dia suka sekali make parfum-parfum sekarang. Dia  jadi lebih suka dandan. Kemaren aja dia mau coba ke Alfamart. Dia beli hand body, Pomade dan  pelembab muka. Salah satu hal yang tumben-tumbenan dilakukan oleh dia.
            
               
           “om kenapa jadi suka dandan”
                
            “ahh om emang dari dulu suka kok”
         
            “biasanya ga pernah”
    
            Yah om adit pernah 3 Hari ga mandi di rumah karena dia beralasan tidak ngapa-ngapain. Dia hanya di depan laptop mengetik-, mengetik, mengetik terus sampe bongkok. Tapi sekarang prilakunya berubah 180 derajat. Dia jadi pria yang dandy. Terakhir kali dia begini waktu dia masih pacaran dengan tante Cani. Aku tidak masalah malah aku senang akhirnya om adit tidak bau kalo nganterin aku.

                Dia bahkan sampe nungguin di depan tempat Bimbel biola aku. Kak sabrina kali ini datang dan ada yang aneh bahwa dia memegang bunga. Akan tetapi yang lebih anehnya adalah dia tidak memegang bunga tangkaian akan tetapi sebuah pot bunga. Dan bunganya bukan bunga mawar engak tahu bungannya bunga yang jarang  orang umum kasih

                “kak sabrina tumben bawa bunga”

                “tahu nih om kamu yang ngasih”

  “om aku yang ngasih” sebenarnya sempat bingung karena di rumah tadi dia tidak menyiapkan apa-apa

“bunga apa itu kak sabrina”

“ ini bunga Aster”

Dasar om adit pasti dia ga punya duit. Kalo mau beli seharusnya beli bunga yang sedikit lebih romantis. Bunga mawar kek. Dan tentu saja ga usah sama potnya.

Dasar om payah Tapi walaupun begitu Kak sabrina tetap tersenyum dan rasanya keliatan senang.





  Membeli Bunga ( PoV adit) (Part 6)

POV Adit
              
           Sekarang setiap hari minggu adalah moment untuk gue bisa semakin dekat dengan ibu Sabrina. Yah setelah pertemuan dengan ibu Sabrina gue rasa kita semakin lama semakin dekat. Gue juga telah berdandan.
              
            Walaupun ketika gue membeli handbody dan pelembab muka mbaknya seolah tak percaya. Bukan karena gue tidak pantas memakainya tentu saja gue tampan. Akan tetapi mbak-mbaknya ragu cowok kaya gue mengikuti pola hidup pria metroseksual.

                Mbak-mbak ini terlalu meremehkan Gue. Yang memang penganguran ini.
Catatan Penting : Saat mau membeli memang adit menabung dulu seminggu untuk membeli handbody dan pelembab muka.

                Yah tak papa gue memang menabung hanya untuk membeli perlengkapan dandan ini tapi bukannya memang begitu ya kan. Kita harus berkorban untuk maju. Tak ada harga yang murah untuk suatu kemenangan yang manis


                “om kenapa beli begituan?” tanya dira yang penasaran

                “beli begituan apa?”

                “itu beli hand body, pomade sama parfum”

                “dira-dira kamu belum paham”

                “belum paham apa”

                “yaudah nanti gede kamu juga paham”

                Dewasa nanti kamu akan sadar beberapa orang dewasa akan berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka sebut cinta. Cinta memang butuh perjuangan ya kan. Oh iya gue lupa memberi tahu kalian bahwa hubungan gue dengan ibu sabrina makin lama makin terasa dekat. Yah memang mulanya dia memang percakapan awal memang tentang anak didiknya sih dira akan tetapi sekarang-sekarang sudah ke hal lain-lain dan  akhirnya gue baru tahu bahwa ternyata ibu sabrina selain melakukan biola dia sangat senang dengan Bunga.

                Jadi waktu itu hujan kan. Di tempat bimbel dira

                Akhirnya kita duduk bertiga.di depan sebuah teras sambil menunggu hujan.

                “hi kak Sabrina. Nunggu ujan juga ya?”

                “iya nih.mau pulang jadi ketunda dulu”

                Perasaan gue waktu itu

Terima kasih Hujan

“emang rumah kamu dimana brin” tanya gue penasaran.

“deket kok dari sini. Yah 20 menitan lah. Cuma kalo naik motor tetep bakal basah sih”

“ohh deket”

“kak sabrina kenapa kok mukanya takut gitu” tanya dira kepada sabrina

“gapapa kok. Cuma di rumah itu ada tanaman mawar gitu. Jadi dia ga begitu kuat kalo sama yang namanya hujan kaya gini”

“Kamu Suka Bunga?” tanya gue penasaran

“iya, Keturunan dari ibu kayaknya dulu ibu katanya sempet jadi Florist”

“bunga apa yang paling kakak Suka?” tanya dira

“hmm apa ya banyak. Abis setiap bunga itu kan kaya punya arti masing-masing kaya Bunga Lili artinya kemurnian, Melati artinya persahabatan yang kuat danmawar artinya Cinta yang membara”

“ciee.cieee.. Cinta-Cintaan”

“apaan sih Dira” kata sabrina sambil tertawa

Setelah itu hujan berhenti dan dia juga segera Pergi kembali.
          
      Tapi dari situ gue akhirnya tahu bahwa sabrina suka dengan bunga maka gue juga ingin mencari bunga yang mewakili perasaan-perasaan gue. Maka besok harinya gue ingin memberi sesuatu yang manis segeralah gue ketempat toko bunga itu.

       Setelah sampe ke tukang bunga itu. dia melihat gue seolah-olah gue adalah mahluk asing yang seolah-olah rasanya tidak pantas berada di tempat ini. Yah laki-laki yang cukup macho mau membeli bunga rasanya seperti melihat agung hercules minta duit buat beli barbie Kepada anaknya. Yah karena agung minta duit ke anaknya memang ga pantes.

 “ misi mas saya disini mau nyari bunga mas”

“Mau Nyari apa mas?” tanya dia sedikit kaget

“kalo buat yang romantis-romantis apa ya mas”

“oh ini mawar dan Melati mawar itu kan bisa buat cinta yang membara dan melati itu artinya ketulusan hati”

2 artinya memang sangat bagus. Akan tetapi gue rasa gue tidak membutuhkan hal itu.

“ada bunga yang lain mas?”

“ada bunga Akasia untuk Cinta yang terpendam”

Cukup Bagus sih

“selain itu”

“ada bunga Angrek yang mengartikan kecantikan dan Cinta” memang angrek juga bagus akan tetapi gue perlu juga yang enak dilihat

“kalo itu mas”

Ini adalah bunga.................................................
------------------------------
Besoknya setelah mengantar dira dan dira telah masuk gue mengambil bunga yang telah gue titipkan ke satpam tempat bimbel dira. Yah karena belakangan gue tidak balik. Gue selalu nongkrong di pos satpam.

“bunga gue aman kan bang”

“aman dong Bro”

“makasih nih yah bang”

“siap woles aja. Traktir kopi aja nanti”

Akhirnya setelah gue ambil gue menunggu sabrina. Dia memang selalu on time. Biasanya dia akan sampai 5 menit sebelum kelas dimulai.

“Sabrina”

“iya apa?”

“ini Bunga buat kamu”

“hmmm makasih. Tapi ini harus sama pot-potnya ya?”

Yah memang gue memberikannya sama pot-potnya karena menurut gue. Kalo memberinya pertangkai ini hanya akan membunuh tanamannya dan tidak bisa dinikmati lama.

“Biar awetnya lama,hehehehe”

“makasih ya dit”

“iya sama-sama” dan gue melihat dia tersenyum tersipu malu.

Bunga apa yang gue kasih kepada sabrina itu adalah bunga aster.bunga aster adalah simbol cinta, keindahan, kecantikan dan kesabaran. Yah bagi gue memang mirip dengan mawar yang berarti cinta yang membara akan tetapi gue merasa bahwa perasaan gue sudah cukup terwakili oleh aster itu. biar bagaimanapun sabrina akan menjadi asterku.

Minggu, 17 Februari 2019

Ajang Lomba Nyanyi (Pov Adit) (Part 5)


POV Adit

                Cita-Cita gue dulu bukan ingin menjadi penulis. Akan tetapi dari dulu gue ingin menjadi pemain sepak bola profesional. Ingin membagakan nama indonesia dengan nomor punggung 14. Yah nomor punggung 14 adalah nomor faforit gue nomor yang sama yang dipakai oleh Park Ji Sung dan nomor yang sama dengan Arif Suryono pemain timnas faforit gue

                Kenapa tidak jadi karena ternyata kehidupan itu kejam karena mempunyai pasion di dalam satu bidang belum tentu punya bakat disitu. Karena ternyata gue pernah mengikuti audisi untuk menjadi pemain Pelita tangerang setelah ikut gue tidak lolos gue sempat merasa kecewa akan tetapi usaha gue tidak hanya disitu gue terus mencoba sampe usia gue sudah dewasa akan tetapi gue belum masuk ke club besar manapun.  Kayaknya gue harus sadar bahwa banyak orang yang lebih jago daripada gue Dan mungkin lebih berhasrat daripada gue banyak.

                Akan tetapi kehidupan memang tidak hanya satu hal saja ya kan. Setelah gagal di dunia persepakbolaan gue beruntung karena menyukai satu bidang lain yaitu menulis. Yah ini awalnya dimulai dari SMA ketika gue ingin menembak seorang wanita, kenapa waktu itu gue menulis adalah karena sudah beberapa kali gue menembak langsung dan selalu ditolak dengan kata-kata “Najis Lu” dulu gue berpikir kalo misalnya lewat tulisan setidaknya gue kalo ditolak tidak akan sakit-sakit amat seperti mendengar langsung

                Ternyata waktu itu tanggapannya berbeda. Yah tetap ditolak akan tetapi itu karena gue datang disaat tidak tepat katanya karena dia baru jadian dengan orang lain.

                Dari situ gue berpikir mungkin gue punya bakat dalam hal ini.

                Memang sepertinya memang hal cemen yang mendasari cita-cita gue ini akan tetapi gue merasa untuk menjadi sesuatu kita terkadang tidak perlu alasan yang bagus. Kita hanya perlu menjalaninya sungguh-sungguh.

                Mungkin alasan bagus kenapa gue ingin jadi penulis. Karena mungkin dengan tulisan kita bisa bicara lebih jujur dan dalam kepada seseorang dan itu yang pengen gue capai. Perasaan jujur dan dalam itu. karena sepertinya setiap perasaan manusia yang terdalam itu indah.

                Tapi sudah hampir 2 Tahun setelah lulus kuliah beberapa karya telah gue buat dan telah gue kirimkan ke beberapa penerbit akan tetapi hasilnya selalu ditolak. Akan tetapi gue sebenarnya tidak ingin menyerah pada mimpi ini.

                Akan tetapi mungkin kalo dalam 1 tahun lagi gue tidak mendapatkan hasil dari menulis mungkin gue harus menyadari bahwa gue memang tidak punya bakat dan pasion yang sebesar itu kepada dunia penulisan.
Sial.
----------------
                “dit”      

                “bangun”

                “BANGUN”

                “BANGUUNNNN”

                Dan akhirnya gue dicipratin-cipratin air. Yah itu lah cara rumah gue membangunkan gue. Yah bisa dilihat memang tidak ada manusiawi-manusiawinya. Hari itu memang gue disuruh nganterin dira untuk berlomba di depok D-Mall.

                Segeralah gue mandi dan memanaskan paijo (Motor Jupiter Z gue warna Hijau) gue. Dan segera berangkat ke depok tampat lomba itu berada. Memang sudah terlihat lomba anak-anak yang ramai sekali akan tetapi mereka tidak bernyanyi melainkan menggambar

“dira kamu yakin ini lombanya ?”

“Iya om adit ngambar dulu baru nyanyi. Eh om adit entar dulu ada temen aku” Setelah berbicara begitu dira  langsung menuju tempat temannya dan meningalkan gue sendiri sebenarnya ingin meningalkan dira sendiri tapi rasanya tidak mungkin dan tentu tidak tega.

 Karena sepertinya masih cukup lama sampe mulai lomba nyanyi  gue mencoba untuk makan dulu di KFC kita memakan KFC Winger, kenapa kita memakan itu tentu saja jelas karena makanan itu makana paling murah dan Worth it.

                Setelah selesai makan. Gue mau pergi e kamar Mandi dulu. gue menyuruh dira untuk tetap disini dulu dan jangan kemana-mana apapun yang terjadi. Awalnya dia tidak mau dan mau ikut akan tetapi satu buah Ice Cone KFC mengubah semuanya. Akhirnya dia mau. Setelah itu gue segera berjalan menuju kamar mandi.

                Setelah selesai gue menabrak seorang wanita.

                Brak. Dia dan gue segera Terjatuh.

                “ Kalo Jalan Pake Mata dong”

                Tanggapan Dalam Hati : Jalan Pake Kaki aja kadang suka Jatuh disuruh pake MATA.. MIKIR DONG..

                Tanggapan sesunguhnya : iya mbak, maaf lagi buru-buru.

Saat itugue segera melihat dirinya. Wanita ini mengunakan rok hitam yang sedikit diatas dengkul dengan baju bermotih abu-abu dengan tulisan “going somewhere” dan dengan menggunakan Kacamata yang terlihat tebal dan mukannya juga sangat imut, kalo boleh jujur kalo gue bertabrakan dengan wanita secantik ini maka gue akan mengubah tanggapan dalam hati gue tadi.

Tanggapan Dalam Hati : Jalan Pake Kaki aja kadang suka Jatuh disuruh pake MATA.. MIKIR DONG..Tabrak aku mbak,, tanbrak Lagi.

Setelah bertabrakan akhirnya dia segera berdiri dan langsung meningalkan gue. Pengen rasanya gue pengen bilang untuk kenalan akan tetapi rasanya tidak begitu berani aku untuk mendekatinya.

Akhirnya gue segera keluar lagi ke tempat dira menunggu. Biar bagaimanapun dira ga boleh ditinggal terlalu lama. Anak kecil sangat bahaya kalo ditinggal sendirian. Akhirnya gue kembali ke tempat dira.

Setelah ketemu dira kita ketampat lomba dan disitu sudah pengunguman lomba mengambar.

“untuk yang lomba nyanyi kumpul di back stage ya”

 nomor dira memang tinggal beberapa lagi. dira terlihat sedikit nervous. Dia sedikit bercerita dan sepertinya memang sedikit wejangan untuk hasil akhirr memang diperlukan untuk dira saat ini. memang ajang lomba seperti ini akan membuat sedikit adrenaline naik

Akhirnya tak lama dira maju. Dan memang suaranya sangat bagus suaranya dira memang setingkat lebih bagus daripada suara anak kecil lainnya. Dira tampil dengan percaya diri dira menyanyikan lagu Adele “all i Ask” suaranya sangat dalam dan dira hafal semua liriknya walaupun mungkin dia tidak tahu apa artinya.

Akhirnya kita menunggu pengunguman. Sebelumnya juri juga mengungumkan hasilnya juri sempet berkata “bahwa memang ada beberapa kontestan yang bernyanyi dengan lagu bagus akan tetapi banyak sekali yang menyanyikan lagu yang diluar konteks anak-anak. Jadi itu menjadi bahan untuk pengurangan Poin”

Yah memang sih karena memang lagu yang dira nyanyikan memang rasanya juga kurang pas untuk dinyanyikan untuk anak-anak. All i ask juga kalo tidak salah menceritakan tentang hubungan tanpa status antar sepasang sahabat, dimana si wanita jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, tetapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

Yah sebuah lagu yang mungkin tidak bisa dimengerti umur dira. Yah dira memang suka mengafal saja lagu yang dia dengar. Gue rasa itu juga tidak salah gue Cuma merasa tidak setuju bahwa anak-anak  hanya harus dipersempit kepada lagu anak-anak. Memang rasanya masih kurang pantas anak-anak tapi menyukai karya seni yang indah menurut gue bukan suatu hal yang salah.

Dan gue juga tidak bisa menyaklahkan jurinya setiap orang memang punya pemikiran yang berbeda-beda. Tapi biar bagaimanapun ternyata tetap saja dira juara 3. Walaupun dira masih tidak menyangka bahwa dia bisa juara.

Karena waktu dipanggil namanya di panggung oleh MC dia tidak bergerak

“Om aku juara ya”

“iya sana maju kedepan”

Dira masih dengan senyum-senyumnya maju kedepan.

Setelah dira maju. Dan kembali kepada gue ternyata bukan hanya dira yang datang akan tetapi juga wanita yang tadi gue tabrak. Dia tibak-tibak memeluk dan berteriak

“DIRAAAAA”

Dira pun juga kaget dan melihat kebelakang. Tiba-tiba dia dipeluk.

“Selamat ya kamu juara. Seneng liatnya”

“iya kak sabrina”

“kamu disini sama siapa”

Lalu dira langsung menunjuk ke arah gue

“ehh kamu yang tadi nabrak kan, maaf ya tadi aku lagi buru-buru.aku Sabrina” dan memang nama yang sesuai cantik seperti orangnya. Yah namanya mungkin emang ga cantik-cantik amat tapi emang sabrina ini cantiknya emang kebangetan. Bahkan kalo namanya Roberto Hongo gue akan tetap bilang cantik seperti namanya.

“Adit,hmmm dira ini siapa kamu?”

“ini guru Biola Aku Om”

Dan dari situ gue tahu bahwa Dewi fortuna sedang berpihak kepada gue.

               








Minggu, 27 Januari 2019

Om yang ingin jadi Penulis (Part 4)


POV Dira

                Om adit bercita-cita ingin menjadi seorang penulis yang baik. Kenapa aku tahu karena hampir setiap malam alo sudah memasuki jam 8 malam keatas.  om adit akan menyendiri di dalam kamar abu-abunya. Melakukan hal yang dia biasa lakukan menyendiri dan mengetik.

                
Kadang aku suka nanya tentang apa yang ditulis oleh om adit.

                
“om lagi nulis cerita tentang apa sekarang?”

                “lagi nulis cerita tentang sebuah komunitas stand up yang beda dengan yang lainnya”

                
“gimana bedanya om?”

                
“nah itu belum tahu om. hahahahaha”

                Yah om adit bukan itu aja sih. dia udah sering ngirim novelnya beberapa kali waktu itu dia pernah membuat cerita horor judulnya Catatan Harian Miko. Akan tetapi karena tidak ada kesan seram-seramnya naskah itu sepertinya ditolak. Yah apa yang seram dari seorang anak laki-laki yang mempunyai buku diary. Hal itu pernah aku tanyakan ke om adit

                “apa seremnya?”

                “bukunya berhantu dira? Bisa nulis sendiri. Serem kan?”

                “engak B aja”

                “Kalo gitu nanti setannya keluar dari buku? Serem ga?”

                “ihh kan bukunya kecil?”

                “hmmm iya juga ya. Kalo buku hariannya dibuat sebesar buku gambar gimana?”

                “tetep B aja sih om”

Kegiatan itu yang biasa dilakukan om adit kalo malam telah tiba. Rutinitas Itu juga yang  membuat om adit jadi sering telat bangun. Jadi om adit nganterin aku suka tidak mandi, Memang jorok. Untuk perihal ini. Om adit pun juga sering beralasan “kenapa harus mandi sih?  orang Cuma nganter sama jemput doang”
-----------------------------------
                di sekolah ada sebuah pengunguman yang diberitahu oleh ibnu. Ibnu adalah anak lelaki yang duduk di belakangku.

dia berkata “hari minggu depan aku mau ikut lomba dong”.

“Lomba apa?” tanya Karin ( Karin temanku yang ibunya sering diledekin sama om “Pesaingnya Rosi”) yang tidak kalah semangat

“lomba Ngegambar nih”

“Dimana Nu?” tanya Rohim teman sebangku Ibnu

“Di depok D-Mall”  jawab ibnu

“ada lomba apa aja?” tanyaku yang jadi ikut penasaran

“apa aja ya. Bentar aku check dulu”

ibnu mengeluarkan handphone (memang Ibnu kalo di level anak kelas 3 dia sudah yang termasuk anak yang hi-tech) dari tasnya dan dia mengecheck posternya.

“Ada lomba nyanyi, nari, sama gambar” jawab ibnu

“ada lomba nyanyi tuh kamu ikut lah dira” kata rohim

“iya kata bu Rini suara kamu juga bagus kan” imbuh karin

“kalian kok ga dukung aku tadi?” balas ibnu

“lomba mengambarnya Cuma mewarnai kan nu? Kalo iya kayaknya lu punya kesempatan menang” 
kata rohim datar

“betul-betul” imbuh karin menguatkan

“iya aku coba deh.eh coba liat nu?”

Ibnu pun segera mengasih liat dengan muka yang sedikit kesal. Karena teman-teman meremehkan dia. Aku segera mencatat untuk minta bunda daftarkan ke Lomba nyanyi itu.

pulang dari sekolah aku segera pulang dijemput om adit dan segera ketemu bunda untuk memberitahukan bahwa aku ingin mengikuti lomba menyanyi di D-Mall. Aku segera turun dari motor. Yang diikuti oleh suara om adit yang berkata “pelan-pelan dira nanti jatoh” tapi entah kenapa aku tak mau rasanya aku sangat bersemangat untuk menyampaikan hal ini. Bunda lagi menjemur pakaian segera saja aku berkata

“bunda ada lomba nyanyi di depok D-Mall”

“tahu darimana kamu?”

“dari Ibnu.”

“yakin?” kata bunda sambil mengangkat jemurannya kepada tali

“yakin. Tadi liat dari posternya”

“mana posternya”

“itu tadi di hape Ibnu.”

“terus bagaimana caranya ngontak bunda”

“aku nyatet namanya kon bunda”

Akhirnya bunda menelpon orang itu, disana dia ngomong panjang lebar
Aku sedikit Pede dengan suaraku yah aku pernah beberapa kali disuruh mengisi untuk menyanyi oleh kepala sekolah atau eskul Paduan Suara.yah aku suka bernyanyi dan aku sangat mengidolakan Raisa karena dia memiliki suara yang memiliki kharakter yang kuat dalam menyanyi.

“dira ini bunda udah daftari ya”

Yeeeeeeeee
---------------------

                Hari ini adalah perlombaan. Hari ini om adit dibangunkan jauh lebih pagi lagi karena harus mengantarkan lomba ke Depok D-Mall. Lomba mulai jam 8 dan karena waktu itu bunda tidak bisa hadir karena bunda sedang ada hal yang tidak bisa ditingalkan maka yang mendampingi ku dari awal sampai akhir adalah om adit.

                Om adit sudah selesai mandi jam 06.00 sebuah jam mandi yang sangat luar biasa. Yang membuat om adit. Cukup bersemangat untuk nganterin aku. Karena satu hal. Dia dijanjikan akan dikasih 100 ribu jika mau mengantarku. Tentu saja kesempatan itu tidak akan ditolak.dia bahkan meminta menambah 50 ribu untuk aku makan nanti di saat lomba.
                 
                 Di situ aku bertemu dengan Ibnu yang lagi lomba. Karena ternyata lombanya duluan lomba menggambar setelah itu baru kegiatan lomba bernyanyi,
                “hi Ibnu gimana hasilnya? ”

                “Belum dira tapi aku yakin sih, kayaknya aku bakal juara” Jawab ibnu dengan sangat yakin

                “ohh yaudah semangat ya. Hehehehe”

                Hasil pengunguman lomba mengambar langsung diumumkan setelah lomba selesai. Dan dari juara 1 sampai juara harapan 3 nama ibnu ternyata tidak ada. Aku merasa kasian sama ibnu pasti dia kecewa banget

                “untuk yang lomba nyanyi pada ngumpul di back stage ya”

                Disana aku dibagikan nomor dan aku mendapat nomor urut nomor 7 disana juga aku bersiap-siap. Aku sudah menyiapkan lagu Adele- all i Ask. Waktu menunggu di belakang panggung ternyata membuat aku semakin grogi apalagi mendengar beberapa peserta yang suaranya juga bagus-bagus. Aku takut nanti aku seperti ibnu tidak berhasil menjadi juara

“om aku panik. Bagaimana nih?” tanyaku kepada om

Sambil meneguk kopinya dia pun berkata “sudah santai saja. tampilkan usaha terbaik saja”

                “tapi kalo udah terbaik tetap ga juara gimana”

                “yah gapapa. Kan emang ga harus juara. Lagipula santai aja dira  masih bagusan kamu kok dari beberapa peserta kalo om denger mah” kata om adit santai

                “kalo nanti aku ga ngeluarin yang terbaik gimana?”

                “kamu berniat itu penampilan yang terbaik kan?”

                “ya iyalah om”

                “kalo gitu itu ada penampilan terbaik kamu saat itu, ”

                “maksudnya gimana om?”

                “yah maksud om kalo itu bukan penampilan terbaik seengaknya kamu udah usaha terbaik”

                “kalo tetep ga jaura”

“kalo hasilnya kurang memuaskan kamu bales lain kali”

Setelah obrolan dengan om adit  akhirnya perasaan ku sedikit tenang  aku akan berusaha tampil dengan niat menunjukan yang terbaik. kalo itu bukan setidaknya  Aku sudah  berusaha menunjukan yang terbaik.
Yah seperti itu

“Dengan nomor punggung 7. Fladira Siap-Siap”
------------------

Akhirnya setelah bernyanyi yang dinanti-nanti akhirnya tiba masa-masa pengunguman. Juaranya terdiri dari juara 1 sampai juara harapan 3. Tentu saja aku deg-degan karena ada banyak peserta yang mengharapkan untuk jadi juara.

“Juara harapan 3” suaranya MC berhenti

“Desi Rachmawati” setelah penyebutan nama juga disambut oleh teriakan senang dari desi

“yah untuk desi silahkan maju ayo” suara mc

“om adit aku panik nih” kataku kepada om adit yang berdiri di sebelahku

“kalem aja dir”kata om adit dengan nada datar

“juara 3” suara MC membuat nada sedikit mencekam

“ayo penasaran kan. Kalian. Kita panggil saja juara 3 kita FLADIRA LUNA RAMADHANI”

“Om aku juara ya”

“iya sana maju kedepan”

Perasaanku waktu itu rasanya tidak percaya karena tadi menurutku ada banyak peserta yang lebih bagus dari aku.akhirnya aku maju untuk mengambil piala Rasanya waktu itu aku senang sekali.

------------------------------

Setelah selesai mendapatkan piala aku turun dari panggung Tiba-tiba dari belakang  ada suara teriak
“DIRAAAAA”

Aku kaget dan melihat kebelakang. Tiba-tiba aku dipeluk.

Ternyata adalah kak sabrina yang memeluk ku. Kak sabrina adalah seorang guru biola muda dia mengajarkan aku biola di tempat les musik di Yamaha.

“Selamat ya kamu juara. Seneng liatnya” kata kak sabrina sambil memelukku

“iya kak sabrina. Makasih”

“kamu disini sama siapa?” tanya kak sabrina

Lalu dira langsung menunjuk ke arah gue

“ehh kamu yang tadi nabrak kan, maaf ya tadi aku lagi buru-buru.aku Sabrina” kata kak sabrina sambil menjulurkan tangan

“aku Adit,hmmm dira ini siapa kamu?” tanya om adit

“ini guru Biola Aku Om”

Setelah kata-kata itu om adit hanya tersenyum-senyum aneh.