Rabu, 25 April 2018

lakukan yang benar (part 17)

Ada hal yang harus kita lakukan bahkan kita tahu itu hal yang berat. Karena kita tahu itu adalah hal yang Benar

Babak sudah mencapi 6 Besar

Akhirnya gue dan Opik tidak pernah ngobrol entah itu ketemu di asrama atau di panggung. Dia masih terlalu kesal dengan gue.  Babak memang sudah mencapai 6 besar dan 3 besar berasal dari Batavia menurut gue itu adalah suatu prestasi tersendiri.

Disaat sudah selesai show yang menyisakan
1.       Adam
2.       Mugabe
3.       Ardit
4.       Opick
5.       Ucup
6.       Ridwan remin

Tiba-tiba Ucup nyamperin gue. Dan memberikan gue selamat.

“selamat Dam akhirnya lu lolos juga.”

Melihat ucup memberikan gue selamat. Itu adalah salah satu hal yang ganjil sama ganjilnya kaya melihat santa calus yang membagikan kado saat natal ternyata beragama Budha. Seperti itu. ganjil banget

“Lu sehat kan Cup? lu dapet asupan gizi yang cukup kan di asrama?”

Seharusnya sih gue udah cukup karena di asrama memang makanannya enak-enak sih.

“Sehat lah lu galak amat sama gue dam?”

“Yah abis tumben aja. Seorang Ucup Jakpus ngasih selamat ke gue. Yang kalo lu mungkin lupa bahwa gue adalah dari Stand Up BATAVIA, yang mungkin kalo harus digarisbawahi NONREGIONAL loh cup”

“Hahaha lu mah masih dendaman aja”

“Kalo arti dendam ini masih mengingat-ingat beberapa pengalaman buruk yang pernah dilakukan oleh anak regional kepada kita seperti pernah ngecengin kita Stand Up Facebook, anak dancer, dan paling parah disangka penjaga museum bank  Indonesia. maka iya”

“Maafin deh itu dam”

Hening berkepanjangan ada diantara kita.

“Tapi dam sebenernya anak regional ga begitu kok”

“Maksudnya”

“Yah anak regional juga sebenernya welcome. Yah mungkin kenapa kita bertindak seperti itu ke Batavia. Mungkin karena kita ga saling kenal aja”

“Cup kita udah sering ketemu di Open Mic cup”kata gue dengan sedikietus

“Lu juga ga pernah negor mereka kan? Batavia selalu asik sendiri dengan komunitas mereka”
Apa yang dikatakan ucup memang benar adanya. Kalo dipikir-pikir kita jarang sekali menyapa mereka terlebih dahulu. Kita selalu berharap bahwa kita disapa terlebih dahulu.

“Tapi kalo gue boleh jujur gue agak salut dengan anak-anak Batavia liat aja dari 6 besar ada 3 orang dari Batavia”

“Gue juga ga nyangka sih” yah ini emang berkat dari didikan bang Arif Didu. Dimana dulu kita sebulanan suruh nulis premis.

Terima kasih lu harusnya sama gue. Bayang Arif Didu yang tiba-tiba muncul

“Pokoknya selamat dah. Dari zero to hero.

Ucup meningalkan gue.

Dan gue sadar bahwa mungkin regional telah sedikit memandang Batavia walau Cuma sedikit. Tapi gue berharap sudah.

------------------------------------------

Opik setiap melihat gue rasanya seperti mau ngebunuh. Entah itu dipanggung atau di asrama. Tatapan membunuhnya begitu kuat. Seolah dia akan mencincang, memanggang, gue dalam waktu dekat.

Gue kembali ke kamar asrama dan tiba-tiba gue melihat Mugabe. Mugabe disana sedang menelpon dengan muka serius. Ini pertama kali gue melihat Mugabe bermuka seperti itu.

“be kenapa”

“gapapa dam”

“Kenapa be. cerita-cerita lah”

“tadi dari rumah sakit katanya bapak gue harus segera dioperasi paling lama satu minggu ini. Kalo ga bener-bener bisa gawat”

“terus”

“200 Juta dam darimana gue dapat uang sebanyak itu”

“juara 1 SUCI ini be” kata gue memberi harapan kepada Mugabe.

semangat itu membuat Mugabe untuk terus maju dengan terus menulis dan iya selama 2 pertunjukan selanjutnya Mugabe memang selalu mendapatkan nilai tertinggi beda sekali dengan gue yang dua kali kemaren berada pada titik tidak aman berturut-turut.

Mugabe sudah sangat bersemangat

2 hari lagi,

 2 hari lagi,

Akan tetapi saat sebelum pertunjukan. Mugabe diberi tahu bahwa bapaknya sedang sekarat. Hal itu membuat dia tidak bisa fokus pada materinya. Dia berakhir dengan ngeblank dan mengeluarkan air mata. Kalo lu melihatnya secara langsung dan mengerti apa yang dia rasakan lu pasti akan menangis.

Tapi juri harus menilai juga secara objektif. Maka Mugabe keluar pada 6 Besar.

                                                 -----------------------

Mugabe akhirnya keluar dengan lemas. Dia tidak punya harapan lagi. maka gue sebagai teman akan berusaha untuk juara 1 dan memberikannya kepada Mugabe. yah gue tahu mungkin ini akan memberatkan gue, sadia dan garry .

Tapi terkadang kita harus melakukan apa yang memang harus dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar