Rabu, 25 Oktober 2017

HOME


Entah kenapa gw pengen nulis tentang zona nyaman ini karena menurut gw ini yang gw sedang alami beberapa bulan belakangan.

Waktu pertama kali gw mau masuk BNPB gw merasakan suatu sensasi senang dan juga takut.
Senang karena setelah berkali-kali lontang-lantung yang ga jelas akhirnya gw bisa kerja juga dan gw menjadi PNS dimana itu juga merupakan mimpi bagi beberapa orang akan tetapi gw juga takut  Kenapa gw takut karena katanya gw mau pindah ke Sentul.

Yah gw bekerja di sentul. Kenapa gw bekerja di sentul mungkin karena gw bandel. Iyah jadi kata
nyokap gw kalo gw bandel nanti gw di sentul..

sentil nyyiinnggg...

Ohh iya bercanda kenapa gw bekerja di sentul karena emang formasi yang gw ambil akan ditempatkan disini. Kenapa bisa gw ngambilnya disini. Coba kita reka ulang bagaimana bagaimana waktu proses pendaftaran.

Pendaftaran pns dibuka
 masih nyantai

Pendaftaran PNS tinggal seminggu
Masih tetap santai

4 jam sebelum penutupan Pendaftaran PNS
Mulai panik dan asal pilih.(ga asal deng menimbang dari gelar gw dan semacamnya)
Yap gw memilih BNPB kenapa karena yang gw tahu kantor BNPB pasti di jakarta akan tetapi gw ngambil bagian diklat dan gw baru tahu ternyata bagian diklat selalu dipisah biasanya dari kantor
pusat.

(pengalaman bekerjanya memang masih minim)

Yup mengetahui gw bakal bekerja ada sesuatu yang menganjal di hati gw.

yah bagaimana dengan  keluarga yang gw tingalin

bagaimana dengan teman-teman kampus

atau bagaimana teman-teman gw yang berada didunia STANDUP

yup itu membuat gw merasa sangat sedih.kenapa gw merasa sangat sedih karena seperti gw harus menyelesaikan semua nya. Yah semua harus berakhir. Dan gw harus memulai sesuatu yang baru.
gw bercerita dengan salah satu teman gw namanya vivi entah kenapa nasehatnya enak banget buat gw yang lagi sekarang.

Yah dia bilang ke gw “ketika lu kerja itu kan tanggung jawab lu dan karena lu kerja di sentul bukan berarti lu harus mengakhiri semua kenyamanan lu. Gw ga suka pola pikir lu dit”

Dan saat itu gw sadar sesuatu.

Di dalam hidup ini katanya kita harus terbiasa bergerak dari zona nyaman. Yap gw setuju kita memang harus bergerak dari zona nyaman kita dan keluar dari zona nyaman untuk mencari sesuatu yang baru yang tidak akan kita temui di zona nyaman.

Akan tetapi bukan berarti kita harus meningalkannya kan.


Terkadang mungkin kita bisa kembali padanya saat kita sudah kelelahan dan pergi lagi disaat kita sudah siap untuk menghadapi dunia lagi

Yah zona nyaman itu adalah rumah.

Dan standup dan teman-teman kampus gw.

Adalah salah satu rumah dimana gw selalu ingin mengulangi setiap kejadian.

Yah rumah lain selain keluarga gw.

Yah rumah yang bukan berarti pada bentuk fisik suatu bangunan akan tetapi ruamh yang cenderung kepada hati atau dalam bahasa ingris disebut sebagai “HOME”


dari yang terlalu terbiasa


Tulisan ini aku tulis kembali ketika aku sedang bingung apa yang harus aku pilih antara melanjutkan atau memutuskan cukup sampai disini. mungkin saat kamu membaca ini kamu sudah tahu apa jawabanku.

Selasa, 29 Agustus 2017

Sawadeekap Thailand


Sawadeekap sesuai dengan salamnya kali ini gua akan menceritakan tentang perjalanan gue di negeri gajah.

Yap betul lampung.

BANGSAT!!!!

Bukan. Ya bercanda,bercanda. Thailand.
Sawadeekap  artinya tuh kaya salam kaya asalamualaikum lah. jadi judulnya sama-sama miriplah kaya asalamualaikum paris. ga mendukung juga.

focus boy

Rabu, 02 Agustus 2017

Mardiyansyah


Namanya adalah Mardiansyah seorang laki-laki tidak tampan tapi mengaku tampan, Tidak kaya tapi sombong, Sering dipanggil Dian atau mbak Dian.   Laki-laki yang kalo ngelawak kadang kita harus mikir dulu. tentang jokesnya seperti jokesnya  yang berkata

“kenya itu kalo kita abis makan tuh kenya”

atau

“angin-angin apa yang bisa ngangkat mobil”

“Angin puyuh”

“salah yang bener angin puting beliung BRITAMA”

Sungguh jokes yang ngebuat kita mikir. Akan tetapi sebagai seorang lelaki yang berprilaku ceria kali ini dia terlihat sangat murung sekali. Yah lelaki itu adalah gue sendiri. Entah kenapa gue menuliskan cerita yang harusnya dari pola pandang orang pertama akan tetapi gue melihat pola pandang orang ketiga di awal-awal cerita ini.

Mungkin gue hanya ingin kalian tahu bahwa bagaimana diri gue dan bagaimana terpuruknya gue saat ini. Mungkin gue hanya ingin kalian merasakan dan memahami secara dekat dan seolah berada di sebelah gue yang sedang kesepian ini. Melihat dan membayangkan secara langsung bagaimana patah hati bisa membuat seorang lelaki yang bisa tertawa terbahak-bahak hanya dengan mengunakan jokes receh kini duduk di depan laptop terdiam dan mengetik semua kesedihannya.

Bagaimana semua bermula?